Chandra Asri Cetak Laba Bersih Rp18,22 Triliun Sepanjang 2025

Kamis, 26 Maret 2026 | 15:13:29 WIB
Chandra Asri Cetak Laba Bersih Rp18,22 Triliun Sepanjang 2025

JAKARTA - Kinerja perusahaan energi dan petrokimia nasional menunjukkan perkembangan signifikan sepanjang tahun 2025. 

Salah satu emiten besar di sektor tersebut berhasil mencatat peningkatan pendapatan sekaligus membalikkan kondisi keuangan yang sebelumnya mengalami kerugian. 

Performa ini menunjukkan bahwa strategi ekspansi dan integrasi bisnis yang dijalankan perusahaan mulai memberikan hasil positif.

PT Chandra Asri Pacific Tbk. yang dikenal sebagai emiten milik pengusaha Prajogo Pangestu mencatat pertumbuhan kinerja keuangan yang cukup kuat selama tahun 2025. 

Laporan keuangan perusahaan menunjukkan peningkatan pendapatan serta lonjakan laba bersih dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Keberhasilan ini menjadi indikator penting bagi perusahaan dalam memperkuat posisi bisnisnya di sektor energi, kimia, dan infrastruktur. Selain itu, pencapaian tersebut juga mencerminkan efektivitas strategi ekspansi yang dilakukan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.

Lonjakan Pendapatan Dan Laba Bersih Perusahaan

Emiten Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) membukukan peningkatan pendapatan dan laba bersih sepanjang tahun 2025. 

TPIA mencetak laba bersih sebesar US$1,09 miliar atau setara dengan Rp18,22 triliun (kurs Jisdor BI Rp16.720 per dolar AS 31 Desember 2025).

Dalam laporan keuangannya, TPIA mencatatkan pendapatan bersih sebesar US$7,02 miliar atau setara dengan Rp117,37 triliun. Pendapatan ini meningkat hingga 293,2% dibandingkan dengan 2024 yang sebesar US$1,78 miliar.

Pendapatan tersebut diperoleh dari beberapa lini bisnis utama perusahaan yang mencakup sektor energi, kimia, dan infrastruktur. Masing-masing sektor memberikan kontribusi yang signifikan terhadap total pendapatan perusahaan sepanjang tahun.

Pendapatan dari sektor refinery tercatat sebesar US$3,66 miliar. Sementara itu, sektor chemical memberikan kontribusi sebesar US$3,23 miliar, dan sektor infrastruktur menyumbang pendapatan sebesar US$121,2 juta.

Di sisi profitabilitas, Chandra Asri membukukan laba bersih sebesar US$1,09 miliar, atau setara dengan Rp18,22 triliun sepanjang 2025. Capaian ini berbanding terbalik dengan rugi bersih sebesar US$68,6 juta pada 2024.

Strategi Bisnis Dan Kinerja Operasional

Keberhasilan perusahaan dalam mencatat pertumbuhan kinerja keuangan tidak terlepas dari strategi bisnis yang dijalankan secara konsisten. Integrasi bisnis serta penguatan berbagai lini usaha menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan kinerja tersebut.

Andre Khor selaku Group Chief Financial Officer Chandra Asri Group menjelaskan bahwa perusahaan berhasil mencatat performa yang kuat sepanjang tahun 2025. Hal ini didukung oleh kinerja operasional yang solid serta pengelolaan keuangan yang tetap terjaga.

Andre menyebutkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan profitabilitas yang signifikan dengan tetap mempertahankan kondisi neraca keuangan yang kuat.

“Hal ini menegaskan kekuatan platform terintegrasi dan eksekusi disiplin kami. Kami tetap fokus pada penguatan tiga pilar strategis kami, Energi, Kimia, dan Infrastruktur, sambil menanamkan keberlanjutan sebagai inti dari pertumbuhan kami untuk mendorong penciptaan nilai jangka panjang,” ujar Andre.

Ia menambahkan bahwa perusahaan memasuki tahun 2026 dengan momentum bisnis yang cukup positif. Hal ini didukung oleh berbagai inisiatif strategis yang mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja perusahaan.

“Meskipun kondisi pasar tetap dinamis, platform terintegrasi dan eksekusi disiplin kami memposisikan kami dengan baik untuk kuartal pertama yang tangguh dan kinerja berkelanjutan di masa depan,” ucapnya.

Ekspansi Bisnis Di Sektor Energi Dan Kimia

Dalam upaya memperkuat posisi bisnisnya, perusahaan juga melakukan berbagai langkah ekspansi strategis di sektor energi dan kimia. Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah integrasi Aster Chemicals and Energy (ACE).

Andre menjelaskan bahwa integrasi tersebut merupakan bagian dari transformasi bisnis perusahaan di sektor energi. Aster Chemicals and Energy sebelumnya dikenal sebagai Shell Energy & Chemicals Park yang kemudian diakuisisi melalui kemitraan dengan Glencore.

Kompleks kilang dan petrokimia tersebut dinilai memiliki peran penting dalam mendukung upaya dekarbonisasi sekaligus memperkuat ambisi keberlanjutan jangka panjang perusahaan.

Selain itu, perusahaan juga melakukan ekspansi regional dengan mengakuisisi jaringan ritel bermerek Esso milik ExxonMobil di Singapura. Akuisisi tersebut didukung oleh solusi pembiayaan khusus senilai US$750 juta dari KKR.

Setelah penandatanganan perjanjian SPA bersyarat pada Oktober 2025, transaksi tersebut berhasil diselesaikan pada 1 Januari 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk membangun platform energi yang terintegrasi di kawasan Asia Tenggara.

Di sektor kimia, perusahaan juga memperluas portofolio bisnisnya melalui akuisisi Chevron Phillips Singapore Chemicals yang kini berganti nama menjadi Aster Polymer Solutions (APS).

Fasilitas produksi HDPE dengan kapasitas 400 KTA tersebut memberikan nilai tambah bagi perusahaan sekaligus memperluas jaringan pemasaran terintegrasi di berbagai wilayah, termasuk Asia Tenggara, Cina, dan Australia.

Penguatan Infrastruktur Dan Proyek Strategis

Selain fokus pada sektor energi dan kimia, perusahaan juga memperkuat bisnis di bidang infrastruktur melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA). Melalui entitas tersebut, perusahaan terus mengembangkan platform infrastruktur yang menjadi salah satu mesin pertumbuhan utama.

Platform tersebut mencakup berbagai sektor penting seperti energi, air, pelabuhan dan penyimpanan, serta logistik. Sejumlah pencapaian strategis berhasil diraih dalam pengembangan sektor ini.

Pada sektor pelabuhan dan penyimpanan, Chandra Asri Group berhasil memperoleh izin konsesi dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Izin tersebut memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan layanan kepada pelanggan eksternal.

Di bidang logistik, perusahaan juga terus memperluas armada transportasi yang dimilikinya. Saat ini armada tersebut telah berkembang menjadi 14 kapal gas dan kimia serta lebih dari 200 truk yang mendukung kegiatan operasional perusahaan.

Di dalam negeri, proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) dengan nilai investasi sekitar US$800 juta juga terus berjalan sesuai rencana. Proyek ini telah mencapai penyelesaian lebih dari 50 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal pertama tahun 2027.

Proyek tersebut diharapkan mampu memperkuat rantai nilai industri di Indonesia, terutama di sektor pertambangan dan pengolahan alumina. Selain itu, proyek ini juga mendapatkan dukungan dari Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA).

Partisipasi kedua lembaga tersebut dengan nilai investasi sebesar US$200 juta dinilai sebagai bentuk dukungan strategis dalam memperkuat industri kimia hilir di Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Dengan berbagai langkah ekspansi dan penguatan bisnis yang terus dilakukan, Chandra Asri Group diharapkan dapat mempertahankan momentum pertumbuhan serta memperkuat posisinya sebagai salah satu perusahaan energi dan petrokimia terkemuka di kawasan.

Terkini