Amman Mineral Raup Laba Rp4 Triliun Di Tengah Transisi Smelter

Kamis, 26 Maret 2026 | 15:13:17 WIB
Amman Mineral Raup Laba Rp4 Triliun Di Tengah Transisi Smelter

JAKARTA - Perusahaan tambang tembaga dan emas nasional menghadapi berbagai dinamika operasional sepanjang tahun 2025. 

Kebijakan larangan ekspor konsentrat yang diberlakukan pada awal tahun serta proses peningkatan kapasitas smelter menjadi tantangan yang harus dihadapi industri pertambangan, termasuk oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).

Meski menghadapi fase transisi yang cukup kompleks, perusahaan tetap mampu mempertahankan kinerja keuangan yang solid. Hal ini tercermin dari capaian penjualan, EBITDA, hingga laba bersih yang tetap berada pada level positif sepanjang tahun.

Perseroan juga mencatat sejumlah perkembangan penting dalam proses hilirisasi mineral. Keberhasilan memproduksi katoda tembaga serta emas murni menjadi salah satu tonggak penting yang memperkuat posisi perusahaan dalam rantai nilai industri pertambangan nasional.

Kinerja yang tercatat sepanjang tahun 2025 menunjukkan bahwa perusahaan mampu melewati fase transisi operasional dengan tetap menjaga stabilitas bisnis sekaligus melanjutkan proses penguatan fasilitas pengolahan mineral di dalam negeri.

Kinerja Keuangan Di Tengah Tantangan Industri

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengumumkan kinerja keuangan tahun 2025 yang mencerminkan dampak larangan ekspor konsentrat di awal tahun serta proses ramp-up smelter.

Meski demikian, perseroan membukukan penjualan bersih sebesar US$ 1,84 miliar, dengan kinerja yang menguat di paruh kedua, di mana kontribusi Q4 mencapai sekitar 70% dari penjualan setahun penuh seiring stabilnya operasi smelter tembaga dan precious metal refinery (PMR).

EBITDA mencapai US$ 1,05 miliar dengan margin sebesar 57%, sementara laba bersih tercatat sebesar US$ 258 juta dengan margin 14%.

Capaian ini mencerminkan dampak transisi tahun ini, termasuk dimulainya penambangan Fase 8 dan tantangan ramp-up smelter yang memberikan tekanan sementara terhadap margin.

Adapun laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 248,97 juta atau sekitar Rp 4,14 triliun.

Stabilisasi Operasi Smelter Menjelang Akhir Tahun

Sepanjang tahun 2025, perusahaan juga menghadapi sejumlah proses teknis yang mempengaruhi operasional fasilitas pengolahan mineralnya.

“Sepanjang tahun, smelter kami mengalami penghentian sementara pada Juli dan Agustus 2025 untuk perbaikan Flash Converting Furnace dan Sulfuric Acid Plant. Pekerjaan ini merupakan aktivitas yang kompleks dan krusial untuk memastikan keandalan peralatan dan stabilitas operasional. Setelah perbaikan selesai, operasi smelter kembali stabil menjelang akhir tahun,” sebut manajemen AMMN.

Proses perbaikan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan keberlanjutan operasional fasilitas smelter yang dimiliki perusahaan.

Setelah proses perbaikan selesai dilakukan, operasi smelter kembali berjalan lebih stabil. Kondisi ini memberikan dampak positif terhadap kinerja perusahaan terutama pada paruh kedua tahun 2025.

Kontribusi penjualan pada kuartal terakhir bahkan menjadi dominan terhadap total penjualan tahunan, seiring dengan meningkatnya stabilitas operasional fasilitas pengolahan tersebut.

Izin Ekspor Konsentrat Beri Fleksibilitas Operasional

Selain menghadapi proses teknis di fasilitas smelter, perusahaan juga beradaptasi dengan berbagai kebijakan yang mempengaruhi industri pertambangan nasional.

Secara paralel, AMMN memperoleh izin ekspor konsentrat sementara pada akhir Oktober 2025, yang memberikan fleksibilitas tambahan selama fase ramp-up smelter.

Kebijakan tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk tetap menjaga kelangsungan operasional serta stabilitas arus kas selama proses peningkatan kapasitas fasilitas pengolahan berlangsung.

Dengan adanya izin tersebut, perusahaan memiliki fleksibilitas untuk mengelola produksi dan distribusi konsentrat sambil menunggu operasional smelter berjalan secara optimal.

Langkah ini juga membantu perusahaan menjaga keseimbangan antara kegiatan produksi tambang dan proses hilirisasi yang tengah dikembangkan.

Kemajuan Hilirisasi Dan Nilai Tambah Mineral

Di tengah berbagai tantangan operasional yang dihadapi sepanjang tahun, perusahaan juga mencatat sejumlah kemajuan penting dalam proses hilirisasi mineral.

AMMN mencatat pencapaian penting di hilirisasi, termasuk produksi perdana katoda tembaga pada Maret 2025 dan produksi emas murni pertama pada Juli 2025.

Pencapaian tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan perusahaan untuk memperkuat nilai tambah dari komoditas mineral yang dihasilkan.

Dengan hadirnya fasilitas pengolahan mineral seperti smelter dan precious metal refinery, perusahaan tidak lagi hanya berfokus pada kegiatan penambangan, tetapi juga mengembangkan proses pengolahan hingga menghasilkan produk bernilai lebih tinggi.

Langkah ini sekaligus menunjukkan kemajuan struktural dalam memperkuat rantai pasok industri pertambangan di Indonesia.

Melalui proses hilirisasi tersebut, nilai tambah dari komoditas mineral dapat dinikmati secara lebih luas di dalam negeri, baik dari sisi industri maupun kontribusi terhadap perekonomian nasional.

Ke depan, penguatan fasilitas pengolahan serta stabilitas operasional smelter diharapkan dapat semakin meningkatkan kinerja perusahaan sekaligus memperkuat posisi AMMN dalam industri pertambangan global.

Terkini