JAKARTA - Jakarta memiliki kekayaan kuliner yang beragam, termasuk hidangan sate ayam yang sudah bertahan puluhan tahun.
Beberapa kedai legendaris tetap eksis hingga kini dan menjadi tujuan favorit lintas generasi. Menu klasik ini menjadi alternatif menarik bagi yang ingin menikmati rasa autentik dibanding makanan kekinian.
Keunikan setiap kedai terlihat dari racikan bumbu dan cara penyajiannya. Ada yang menonjolkan bumbu kacang kental, ada pula yang menonjolkan racikan khas Madura. Pelanggan setia bahkan rela datang berulang kali karena citarasa yang konsisten dan tidak pernah berubah.
Setiap kedai memiliki ciri khasnya sendiri, mulai dari ukuran daging, penggunaan kulit ayam, hingga jumlah tusuk per porsi. Hal ini membuat pengalaman makan sate di setiap lokasi berbeda dan selalu menarik untuk dicoba. Sate legendaris ini tetap menjadi bagian penting budaya kuliner Jakarta.
Sate Ayam Cilacap Senen
Di kawasan Senen, Jakarta Pusat, terdapat Sate Ayam Cilacap yang berdiri sejak 1963. "Setiap tusuk menggunakan dua batang bambu dengan tiga potong daging berukuran besar," ujar salah satu pengelola. Bagian kulit ayam diletakkan di tengah, menciptakan perpaduan tekstur yang seimbang antara daging dan lemak.
Meskipun satu tusuk hanya berisi tiga potong, ukurannya yang lebar membuat tetap mengenyangkan. Siraman bumbu kacang kental menambah cita rasa gurih khas Cilacap. Harga seporsi sate di sini mulai dari Rp 30.000 dan tetap diminati pelanggan lintas usia.
Kedai ini juga dikenal karena pelayanan ramah dan suasana sederhana yang membuat pengunjung betah. Banyak pelanggan yang kembali karena nostalgia dan kualitas rasa yang tidak berubah. Sate Ayam Cilacap tetap menjadi ikon kuliner Senen hingga sekarang.
Sate Ayam Pertok H. Martingen
Di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, terdapat Sate Ayam Pertok H. Martingen yang sudah berdiri sejak 1982. "Nama 'Pertok' diambil dari deretan pertokoan di Jalan Gedung Hijau Raya," jelas pengelola. Sate ayam di sini terkenal dengan racikan khas Madura yang tetap konsisten hingga kini.
Dalam sehari, penjualan sate bisa mencapai ribuan tusuk, menunjukkan antusiasme pelanggan yang tinggi. Pelanggan dapat memilih jenis daging sesuai selera, mulai dari ayam biasa hingga variasi dengan kulit. Harga per porsi berkisar Rp 30.000, menjadikan sate ini tetap terjangkau bagi berbagai kalangan.
Selain rasanya yang autentik, kedai ini juga dikenal sebagai tempat yang nyaman untuk bersantap keluarga. Banyak pelanggan yang datang dari luar Jakarta hanya untuk menikmati sate di sini. Konsistensi rasa dan kualitas membuat Sate Ayam Pertok H. Martingen tetap diminati generasi baru.
Sate RSPP
Sate RSPP, singkatan dari Rumah Sakit Pusat Pertamina, mulai beroperasi sejak 1964 dan kini berlokasi di Jalan Kyai Maja No.21, Jakarta Selatan. "Dari kejauhan kepulan asap sudah terlihat, menandakan sate siap disajikan," ujar pengelola. Sate ini dikenal sebagai salah satu destinasi kuliner legendaris di Jakarta Selatan.
Pelanggan datang dari berbagai kalangan, termasuk masyarakat umum hingga selebritas. Menu andalan berupa sate ayam dengan bumbu khas meresap ke dalam daging. Seporsi berisi 10 tusuk dengan harga mulai Rp 30.000 tetap menarik bagi banyak pengunjung.
Keistimewaan lainnya adalah kualitas daging yang selalu terjaga dan bumbu yang tidak berubah sejak awal berdiri. Hal ini membuat Sate RSPP tetap menjadi pilihan favorit masyarakat Jakarta. Kehadiran warung ini menjadi simbol ketahanan kuliner tradisional di tengah gempuran makanan modern.
Sate Jaya Agung dan Sate Apjay H. Asmad
Di Jalan Sabang, Jakarta Pusat, terdapat Sate Jaya Agung yang berdiri sejak 1963. Potongan daging ayam disertai lemak dan kulit disiram bumbu kacang kental serta kecap manis. Harga seporsi mulai Rp 30.000 dan selalu ramai pengunjung setiap harinya.
Sementara itu, Sate Apjay H. Asmad di Jakarta Selatan terkenal dengan cita rasa gurih dan bumbu meresap. "Nama 'Apjay' diambil dari Apotek Jaya, lokasi awal berjualan," jelas pengelola. Seporsi sate mulai Rp 25.000 dengan ukuran potongan besar, membuatnya tetap mengenyangkan.
Kedua kedai ini mempertahankan resep tradisional yang telah diwariskan turun-temurun. Pelanggan yang datang umumnya datang untuk nostalgia sekaligus menikmati rasa autentik. Kedai-kedai ini menjadi bukti bahwa kuliner legendaris dapat bertahan dari zaman ke zaman.
Pesona Kuliner Legendaris Jakarta
Kelima kedai sate legendaris ini membuktikan bahwa citarasa klasik tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Konsistensi rasa, kualitas bahan, dan keaslian resep menjadi kunci keberlangsungan bisnis. Pelanggan dari berbagai generasi tetap antusias datang, membuktikan nilai warisan kuliner Jakarta yang tidak lekang oleh waktu.
Selain rasanya, pengalaman menikmati sate di kedai legendaris juga menghadirkan nuansa nostalgia. Pelanggan dapat merasakan atmosfer jadul yang berbeda dari restoran modern. Dengan demikian, sate ayam legendaris tetap menjadi bagian penting dari budaya kuliner ibu kota.
Kedai-kedai ini juga menunjukkan bahwa kuliner tradisional dapat bersaing dengan makanan kekinian. Kombinasi rasa autentik, harga terjangkau, dan pelayanan yang baik membuat sate ayam legendaris selalu diminati. Para pemilik kedai terus mempertahankan kualitas agar pelanggan tetap puas dan kembali lagi.