Danantara Targetkan Pembentukan Holding Maskapai BUMN Selesai Kuartal I 2026

Kamis, 19 Februari 2026 | 12:09:31 WIB
Danantara Targetkan Pembentukan Holding Maskapai BUMN Selesai Kuartal I 2026

JAKARTA - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) saat ini sedang mempercepat pembentukan holding BUMN di sektor penerbangan. Proses penggabungan antar-maskapai yang tengah dilakukan ini ditargetkan untuk rampung pada kuartal pertama tahun 2026. 

Dalam struktur baru yang akan terbentuk, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) akan menjadi induk dari perusahaan-perusahaan lain dalam holding tersebut, termasuk Citilink Indonesia dan Pelita Air.

Langkah besar ini juga melibatkan pemisahan (spin-off) Pelita Air dari PT Pertamina (Persero). Hal ini dilakukan agar Pertamina, sebagai perusahaan minyak negara, bisa kembali fokus sepenuhnya pada bisnis intinya di sektor energi, sementara Pelita Air dapat berkembang lebih optimal di sektor penerbangan. Dengan begitu, diharapkan sektor penerbangan BUMN bisa lebih efisien dan memiliki daya saing yang lebih tinggi di tingkat regional.

Garuda Indonesia Jadi Induk Perusahaan Dalam Holding Penerbangan

Sebagai bagian dari restrukturisasi sektor penerbangan BUMN, PT Garuda Indonesia akan mengambil peran sebagai induk dari maskapai-maskapai lain dalam holding ini, yang mencakup Citilink Indonesia dan Pelita Air. 

Penetapan Garuda sebagai pemimpin dalam holding ini merupakan langkah penting untuk menyatukan tiga maskapai tersebut dalam satu kesatuan ekosistem penerbangan.

Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) Danantara, menjelaskan bahwa penunjukan Garuda Indonesia sebagai induk perusahaan sudah sesuai dengan rencana transformasi yang telah disusun pemerintah. 

Menurutnya, meskipun Garuda Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang dan sejumlah tantangan yang dihadapi, langkah ini lebih berfokus pada penyatuan ketiga maskapai tersebut dalam satu ekosistem penerbangan yang solid. 

Dony menegaskan bahwa persoalan sejarah yang terkait dengan Garuda Indonesia harus dipisahkan dari konsep besar pengembangan ekosistem maskapai nasional.

"Dalam setiap bisnis, kita harus memisahkan masalah historis dengan visi besar. Setiap perusahaan harus menyatu dalam satu ekosistem yang efisien dan kuat," ujar Dony.

Mencegah Tumpang Tindih Layanan Antar-Maskapai

Salah satu tujuan utama dari pembentukan holding BUMN ini adalah untuk menghindari tumpang tindih layanan antara maskapai-maskapai yang ada di bawah naungan pemerintah. Dalam struktur baru ini, Garuda Indonesia akan berperan untuk menyinkronkan rute-rute penerbangan serta jenis layanan yang disediakan oleh masing-masing maskapai. 

Hal ini bertujuan agar layanan dari Citilink Indonesia, Pelita Air, dan Garuda Indonesia dapat saling melengkapi, bukannya bersaing di pasar yang sama.

Konsolidasi ini juga akan mencakup pengaturan strategi harga yang lebih terintegrasi dan efisien, serta penyusunan jadwal penerbangan yang lebih terkoordinasi. 

Dengan adanya pengaturan yang lebih sistematis, diharapkan maskapai BUMN dapat mengoptimalkan sumber daya dan mengurangi pemborosan dalam operasional mereka.

Peningkatan Finansial Maskapai BUMN Melalui Holding

Selain aspek operasional dan sinkronisasi layanan, pembentukan holding ini juga bertujuan untuk memperkuat posisi finansial masing-masing maskapai BUMN. Integrasi manajemen yang dilakukan dalam holding ini diharapkan dapat mendorong peningkatan laba bersih serta memperbaiki pertumbuhan nilai kapitalisasi pasar perusahaan di bursa saham. 

Dengan konsolidasi yang lebih kuat, maskapai-maskapai tersebut diharapkan mampu beroperasi dengan biaya yang lebih efisien dan mampu bersaing dengan maskapai swasta yang ada.

Konsolidasi ini juga memberikan kesempatan bagi Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air untuk mengakses sumber daya yang lebih besar, termasuk dalam hal pembiayaan dan pengembangan infrastruktur yang lebih baik. 

Di samping itu, dengan adanya peningkatan daya saing, maskapai BUMN ini diharapkan dapat meningkatkan layanan kepada pelanggan dan menyesuaikan diri dengan perubahan dinamika pasar penerbangan.

Penyatuan Tenaga Kerja Tanpa Pemutusan Hubungan Kerja

Salah satu pertimbangan penting dalam proses integrasi ini adalah aspek sumber daya manusia. Dony Oskaria memastikan bahwa meskipun ada perubahan dalam struktur organisasi dan penggabungan maskapai, tidak ada kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang akan diterapkan. Semua tenaga kerja yang ada di entitas yang bergabung akan dipertahankan dan diserap dalam struktur organisasi yang baru.

Hal ini bertujuan untuk menjaga kestabilan sosial dan menghindari dampak negatif terhadap karyawan yang selama ini telah berkontribusi di masing-masing perusahaan. 

Dalam restrukturisasi ini, setiap tenaga kerja akan diperlakukan secara adil dan tetap memiliki peluang yang sama untuk berkontribusi dalam ekosistem penerbangan yang baru.

Harapan dari Pembentukan Holding Maskapai BUMN

Bentuk restrukturisasi dan integrasi ini merupakan upaya pemerintah untuk memodernisasi sektor penerbangan BUMN, dengan tujuan agar sektor ini lebih efisien dan memiliki daya saing global yang lebih kuat. 

Pembentukan holding ini juga menjadi langkah strategis untuk menghadapi tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Garuda Indonesia dan maskapai lainnya, baik dalam hal operasional maupun finansial.

Melalui langkah ini, diharapkan sektor penerbangan BUMN dapat lebih cepat beradaptasi dengan perkembangan industri penerbangan global yang sangat kompetitif. 

Dengan adanya pengelolaan yang lebih terpusat dan terkoordinasi, Garuda Indonesia dan maskapai lainnya di bawah holding ini akan dapat bersaing lebih baik, sambil terus memperhatikan aspek pelayanan kepada pelanggan.

Terkini